Salah Jurusan [Mitos atau Fakta]

“Anak komunikasi, jadilah penghubung di semua bidang keilmuan”

sejak awal kuliah dulu gag sengaja jatoh kelubang masalah lingkungan, trus bingung nih lah gue kan anak komunikasi apa dong yang bisa gue lakuin? maklum lah awal-awal kuliah hape gue masih belum gandroid atau bulekberry jadi masih gag ngerti nih soal dunia per sosmed-an. Jujur aja gue masih gag ngeri apaan itu komunikasi, karena emang gue bukan orang yang pinter bin cepet nangkep sesuatu, jadilah gue ikut-ikutan aja. Tahun pertama kuliah nama gue udah ada di salag satu buku procceding simposium ilmiah. Itu salah satu nikmat Tuhan tatkala gue merasa bahwa gue salah jurusan. Tahun kedua gue kuliah gue makin ngerasa kalau gue salah jurusan sebabnya apa?

Gue apply salah satu conference hitz kala itu namanya National Future Educator Confference, gag komunikasi banget kan? Itu kegiatan bidang pendidikan boo, dan apa gue merasa salah tatkala ikut itu? Rupanya di confference itu ada banyak anak-anak lain dari jurusan yang gag pendidikan banget misal hukum, hubungan internasional, dll. Gue tau disitu ada anak hukum soalnya ada mantan mapresnas 2014 *gag perlu sebut merek lah. Asal lo tau pas gue di kegiatan itu gue ngerasa nothing banget, remah-remah kerupuk banget deh gue, bayangin yang ikutan itu udah banyak pengalaman di dunia confference, dan gue? Nothing lah. Pas gue balik dari Jakarta gue cerita sama dekan gue tentang apa yang mau gue lakuin setelah kegiatan itu beliau bilang ajak-ajak teman yang lain kalau mau berkegiatan bair ada kamu-kamu yang lain. Disini gue nyadar yang namanya komuniksi itu gag cuman urusan sosmed dll tapi juga urusan silat lidah, ketajaman otak dan kemauan bergerak. Tapi ketika ngomong sama temen-temen gue seangkatan justru gue dianggap aneh, kan gue sedih yak. Diajak rada kritis sama masalah ginian belom ada yang mau. Inovasi di bidang pendidikan kalau gag ada inovasi di bidang komunikasi bakal sama aja.

 

Anak komunikasi masuk ranah budaya? Serius? Miapah?

Ini tentang gue yang bahagia tatkala ikutan Borobudur Youth Forum, lah kan gue anak komunikasi buat apaan ikutan begituan? Buat cari pengalaman neng [pengalaman ini gag gue lupain, temen sekamar gue waktu itu duta bahasa nomor wahid se jateng] Ini kegiatan menurut gue rada me dimana gue harus nemu solusi untuk permasalah budaya di sekitaran candi borobudur khususnya dan Indonesia secara umumnya, disini bareng temen-temen satu team bikin kegiatan yang emang bener-bener aplikatif buat masalah disana. bidang komunikasi dipake gag? pake banget, belajar ngomong doang ternyata gag gampang, bikin inovasi kalau gag bisa komunikasi is nothing.

 

pengalaman gue maju presentasiin proyek yang mau gue buat ternyata juga butuh modal komunikasi, ya maklum ini kompetisi tingkat nasional dimana se Indonesia cuman 34 orang diambil. *gag ada maksud riya’* gue maju sendirian tanpa ada temen yang bantu [ada sih tapi buat teknis] dan kalau gue gag bisa komunikasi maju selangkah kebelet pipisnya 1 jam. apa yang gue presentasiin emang jauh dari bidang komunikasi tapi bukankah komunikasi itu ngedukung gue dari sisi yang lain. kalau gue gag belajar komunikasi kelompok mungkin gue masih hidup dengan segala kengototan dan gag mau kalah.

 

kalau dipikir pikir lagi, gag pernah ada kata salah jurusan yang ada adalah kamu tidak berfikir lebih luas untuk mengembangkan jurusan kamu. mau jurusan pgsd tapi masuk di bidang lingkungan atau bisnis masuk ke bidang meteorologi itu gag salah. yang selalu gue inget tat kala gue anggap diri gue salah jurusan adalah ilmu itu seperti jaring laba-laba dimana semuanya terkoneksi.

 

trus kalau ditanya orang apa gue nyesel sempet bilang diri gue salah jurusan? ENGGAK

salah jurusan itu mitos atau fakta? Buat gue MITOS karena sebenernya ilmu itu gag ada batasanya

pada akhirnya gue harus memilih untuk tetap kembali ke ke tempat dimana gue digembleng. toh pas diakhir kuliah gini gue ngerjain tugas akhir juga masih di bidang komunikasi cuman topiknya gag berbau lingkungan. gue bukan motivator tapi gue coba ngajak kalian naik gunung gag cuman dari jalur pendakian yang umum meski banyak resiko. hidup kan emang gitu.

 

Nano Nano

Ya, aku merasakan keganjilan tentang rasa ini. Aku dan kamu memang terpisak jarak ribuan kilo, kini aku meragu seiring perjalanan hubungan ini. Aku tau kamu memang sosok yang baik, namun taukah kamu seorang perempuan tidak hanya ingin disimpan seolah olah simpanan rahasia yang tak ada orang yang boleh tau bahwa kau adalah milikku. Bukan, aku dan kamu bukan milik siapapun tapi kita adalah milik penguasa. Ah kamu benar, untuk apa kamu menunjukan siapa aku kepada publik . Iya aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Haruskah aku menyerah pada titik ini?

Apa aku egois jika menginginkan keberadaanku diketahui orang terdekatmu? Apa akau terlalu agresif sehingga aku dengan bangga menunjukan siapa kamu kepada orang-orang terdekatku? Apa aku salah jika aku menginginkan pengakuan?

Kamu terlalu baik sehingga kamu tak pernah mau tau apa yang sebenarnya ada di otak dan hatiku saat ini. Aku hanya berusaha untuk menunjukan apa yang bisa kau lihat. Tapi pernah kah kau berfikir bahwa ada hal lain yang tak pernah aku tunjukan. Kamu tak pernah bertanya, selalu saja aku yang bertanya. Tak jarang aku merasa bahwa akulah pengemis itu.

Lupakanlah,

Aku tau bahwa mungkin sekarang ini masih dalam proses hidup yang panjang.